Sebuah tanggapan untuk artikel 7 Kelemahan Print on Demand (Bagian Kedua)
Sebagai penerbit indie, tentu saja kami sangat menyadari
adanya kelemahan di penerbitan indie. Tapi, untuk dimengerti saja, baik
penerbitan indie maupun penerbitan mayor sama-sama memiliki beberapa kelemahan
dan kelebihannya masing-masing. Pengandaiannya, di penerbit mayor pun buku anda
sudah terbit. Tetap menghadapi beberapa kendala alias tantangan. Faktanya,
penerbit mayor sekelas Gramediapun hanya menebak-nebak suatu naskah akan laku
atau tidak. Saya akan mengkhususkan diri pada cara mengatasi kelemahan
penerbitan indie atau self publishing.
1. Rendahnya kualitas editing
Jelas, yang pertama berkaitan dengan rendahnya kualitas
editing. Situs penyedia jasa print on demand mengharuskan penulis sekaligus
merangkap editor bagi karyanya sendiri. Ini adalah konsekuensi dari model
penerbitan berbiaya murah. Penulis yang memaksakan diri menjadi editor harus
paham bahwa editing bukan persoalan EYD belaka. Butuh skill khusus untuk
mengedit.
Anda bisa membandingkan sendiri mutu buku yang anda edit,
dengan produk penerbit buku mainstream yang diedit oleh editor profesional.
Solusinya: anda bisa memakai jasa freelance editor atau
editor partikelir. Tapi cara ini otomatis menuntut biaya tambahan. Nah, di
penerbitan kami, kami juga menyediakan jasa editing secara profesional dengan
beaya yang sangat terjangkau.
Cara kedua adalah print outlah sementara naskah anda,
kemudian biarkan dibaca oleh teman-teman anda. Kalau, teman anda merasa berat
membaca naskah anda, kemungkinan begitu juga yang lain. Yang jelas, dengan
menyerahkan kepada teman untuk membaca, kita selain mendapat masukan juga
mendapatkan editor gratisan.
2. Penulis (dan pembaca) menanggung biaya promosi dan
distribusi
Hemh untuk hal ini jelas. Namanya juga penerbitan mandiri.
Tapi yakinlah, bahwa dalam penerbitan mandiri kami, anda tidak akan benar-benar
sendirian. Kami akan siap dalam melayani konsultasi promosi dan distribusi.
Bahkan, dalam paket besar, terbitan minimal 200 eksemplar kami bersedia
membantu distribusi ke toko-toko buku dan membuat promosi dalam beberapa
komunitas.
Dengan menentukan batas minimal terbit (20 eksemplar),
sesungguhnya kami sudah membantu anda untuk melihat pangsa pasar atau sekedar
mencoba-coba. Jadi, penerbitan model ini tak sekedar asal terbit. Bagaimana
kemudian dengan beayanya? Sebenarnya sama saja. Ongkos cetak buku yang
sebenarnya tidak sampai 50% dari harga buku di toko-toko buku. Dengan demikian,
sebenarnya kan sama saja, beaya promosi ditanggungkan pada pembeli? Bohong
kalau penerbit mau merugi untuk beaya promosi.
Pangsa pasar sekaligus bisa membuat anda mengira-ngira
sendiri berapa harga jualnya. Sebuah cetakan buku kami, Ambil contoh dalam
penerbitan kami, yang paket 400 ribu rupiah untuk 20 buku. Bahkan untuk dijual
seharga 30 ribupun masih sangat murah. Salah seorang penulis kami, dengan paket
850.000 bisa menjual seluruhnya sampai 1.500.000 rupiah dan itu masih tergolong
murah dibandingkan dengan seandainya dijual di toko buku.
Promosinya, cukup melalui kenalan yang sudah punya jejaring
sosial cukup baik.
Tentu saja, dalam hal promosi kami tidak akan mengecewakan.
3. Wilayah pemasaran terbatas
Maksudnya mungkin lebih sempit dibandingkan dengan
penerbitan mayor alias reguler. Benar, memang demikian sepertinya pemasaran
dalam penerbitan indie. Namun, di era serba berjejaring di mana kita bisa
memasuki global village sekarang ini, perbedaan antara lebih sempit dan lebih
luas sangat tipis. Kalau anda ke toko buku, tidak semua buku terbitan mayor ada
di sana. Kecuali kemudian anda masuki web publishingnya, anda baru bisa pesan
bukunya. Itu untuk penerbitan mayor loh. Sementara dalam penerbitan indie,
wilayah distribusi itu bisa diatasi dengan online. Ada banyak web-web penjualan
yang bisa dijadikan kios buku.
Opsi kedua, cukup bekerja sama dengan distributor buku.
Meskipun harganya harus dinaikkan, namun masih bisa dalam harga rata-rata di
toko buku. Tidak kemahalan. Itu hanya mengandaikan anda menemukan penerbit
mandiri yang tepat.
4. Menyita waktu lebih banyak
Jika tidak punya waktu untuk mempromosikan, barangkali
naskah buku indie hanya akan tersimpan di file penerbit. Itu juga yang dulu
dialami oleh salah seorang penulis kami. Bukunya hanya jadi pajangan sampul di
toko buku online yang berbasis POD. Lalu oleh penulisnya segera dicabut.
Hahahaa.... Bukan karena dia tidak yakin dengan karyanya, tapi kok jatuhnya
malah lebih mahal. Kini dengan menyuplai, meski sedikit buku paling dan
harganya yang sangat murah, penulis itu dengan yakin bisa menawarkan bukunya.
5. Harga jual lebih mahal
Sekedar saya ambil contoh saja, buku Beriman di Arus Jaman
dengan format lebar dan tebal hampir 300 halaman, di toko buku harganya bisa di
atas 70 ribu. Kami menjual buku setebal itu dengan harga 50 ribu sudah bebas
ongkos kirim. Mana yang lebih mahal? Sehari, hari kerja, sudah sampai ke tempat
tujuan. (lihat gambar di samping)
6. Ketimpangan bagi hasil
Itu kalau anda menggunakan penerbit mandiri yang biasa
dengan berbagai paketnya. Bahkan, penerbit mandiri banyak yang memberikan 0
rupiah karena buku dari penulis sama sekali tak ada yang pesan. Bagaimana
dengan Mer-C Publishing?
Setelah paket penerbitan diambil, harga dan keuntungan
sepenuhnya ditentukan untuk penulis. Anda mungkin tidak percaya dengan
keuntungan yang di atas 70% dari beaya cetak dan itu masih jauh lebih murah
dari buku-buku umum. Silahkan buktikan sendiri di Mer-C publishing....
7. Minimnya apresiasi masyarakat
Wah.... bahkan banyak buku-buku terbitan mayor yang tidak
diapresiasi oleh masyarakat. Sangat relatif. Bagaimana caranya agar bisa
diapresiasi. Temukan sahabat pena, berilah hasil karya anda sebagai bagian dari
promosi lalu minta untuk membuat apresiasi. Salah seorang penulis kami sangat
berhasil dengan cara semacam itu.
Jadiiii... ya jeli-jelilah memilih penerbit. Dan Mer-C
publishing adalah salah satu alternatif yang paling tepat dalam mengatasi
permasalahan ini.